Sajak Liar dan Addersnya


Kata Adders pada judul dan dalam tulisan ini seharusnya dicetak miring, untuk memberi keterangan kata berbahasa asing. Asing dalam pengertian secara harfiah, bagi mereka yang tidak memahami terminologi dalam media sosial, atau bahkan tak mengerti Teknologi Informasi sama sekali. Bahkan beberapa orang yang telah menggunakan media sosial, berkemungkinan tidak mengakses berbagai macam produk media sosial tersebut secara keseluruhan. Karena media sosial tersebut memiliki beragam jenis klasifikasi produk sesuai jenis dan kebutuhan. Aspek sosiologis memengaruhi seseorang untuk memprioritaskan salah satu atau beberapa produk media sosial yang ia anggap perlu. Psikologis penggunanya pun berbeda-beda. E-mail, Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, YouTube, Line, dll, memiliki dinamika sosialnya masing-masing. 

Apa yang diunggah pada laman media sosial, dengan cepat dapat tersebar ke ribuan pengguna lainnya melalui fitur like atau share pada postingan tersebut. Ini menjadi semacam penilaian yang ditujukan bagi audiens. Celakanya, mereka yang melihat postingan tersebut belum tentu memahami substansi dari suatu postingan. Banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa fungsi dari fitur like merupakan bentuk apresiasi. Inilah yang membuat sering terjadinya ketidakadilan dalam penilaian, jika tidak bisa dikatakan “Tidak Bisa Membedakan Kotoran dengan Emas”. Postingan yang menjadi kontroversi, jauh lebih direspons dibanding yang bermanfaat dan berkualitas. Saya sangat maklum terhadap hal itu. Karena sejak kecil, masayarakat Indonesia dididik untuk menjawab soal, bukan menguraikan permasalahan. Asalkan hidup untuk hari ini saja – itu sudah cukup – tak perlulah untuk mengurai permasalahan masa lalu yang sepantasnya dikubur, apalagi masa depan yang belum pasti. Kalau ada yang dihakimi ramai-ramai, mereka ikut menghakimi, tanpa ada solusi apalagi memberi contoh yang lebih baik. Kalau ada yang diberi tepuk tangan, hendaklah ikut bertepuk tangan, tanpa perlu kritik yang membangun. Nilai hanya sebatas angka yang diberikan di sekolah dan kampus, dan hal-hal materiil lainnya.

Perkenalan dengan Sajak Liar

Setelah menyadari dan memahami pelbagai dinamika dalam kehidupan media sosial, selain kesadaran etika, secara otomatis seseorang tersebut memiliki kesadaran selektif dalam menyaring dan memahami informasi. Hal ini juga berpengaruh bagi saya pribadi. Setelah sekian lama merasa jenuh dengan keberadaan akun-akun media sosial provokatif, sensasional, bahkan tak tanggung-tanggung mengangkat isu-isu SARA, akhirnya saya lebih membatasi apa yang saya ikuti dalam media sosial. Belum lagi peluang keuntungan popularitas dari sensasi yang mereka tuai. Daripada terjebak di dalam kebencian, lebih baik membuat dinding-dinding penyekat terhadap kebencian tersebut. Hal-hal yang ekstrim memang menarik, tapi perilaku moderatlah yang mendekati kebenaran.

Setelah memahami pentingnya selektivitas dalam mengolah dan mencerna informasi, saya fokuskan media sosial saya pada dunia literasi. Literasi sendiri dalam KBBI belum memiliki pengertian yang konkret. Ia merupakan serapan dari kata literacy dalam bahasa inggris yang berarti keberaksaraan, atau dunia baca-tulis. Literasi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, dapat mencapai tahapan liturgi, yaitu ibadat.

Dalam prinsip selektivitas saya tersebut, entah kapan pastinya, saya menemukan aktivitas dunia sastra pada media sosial, khususnya Line. Pada awalnya yang saya ketahui adalah akun Kumpulan Puisi, yang sangat populer dan menjadi trademark tersebut. Makin lama makin banyak akun-akun sastra yang berseliweran pada dinding timeline saya. Selain menarik, hal ini tentu juga bermanfaat sebagai popularisasi literasi itu sendiri.

Suatu hari saya diajak bergabung dengan group Sajak Liar oleh seorang kawan. Setelah melihat karya-karya yang diunggah, saya memiliki ekpektasi tersendiri dengan komunitas ini. Saking besarnya ekspektasi tersebut, saya jadi ragu, apakah saya mampu berkontribusi bagi mereka dan sastra Indonesia, khususnya di bidang Kepenyairan. Sejak kecil saya lebih tertarik ke dunia cerita. Saya lebih suka mendengarkan dan memahami. Kepengarangan tentu saya punya minat tinggi terhadapnya. Tapi kepengarangan dalam syair, buat saya berbeda. Tiap kata dalam syair haruslah mampu menyampaikan maknanya. Sedangkan dalam esai, cerpen dan novel lebih memiliki ruang yang luas.

Dinamika, Polemik dan Harapan

Kebudayaan itu pada dasarnya bersifat dinamis. Ia tak bisa dibendung oleh kelompok atau bahkan kekuasaan. Jika dibendung, tentu akan menimbulkan perlawanan. Kebudayaan tidak akan pernah mati selama manusianya belum punah. Karena ia adalah wajah dari suatu peradaban manusia. Tetapi seni, dan khususnya sastra, tak akan pernah mati walupupun manusianya mati. Alam semesta memiliki bentuk kesenian dan kesusastraannya masing-masing.

Dalam kedinamisan kebudayaan tersebut, polemik bukanlah hal yang seharusnya dihindari. Ia diperlukan untuk tetap ada, demi kemajuan kebudayaan itu sendiri. Yang terpenting setiap polemik tersebut haruslah diisi dengan pertanggungjawaban etika dari setiap pelakunya. Oleh karena itu, setiap pertemuan dalam Komunitas Sajak Liar, saya selalu mengimbau setiap anggota agar menjaga etika dalam kritik dan berpolemik. Ini merupakan tanggungjawab saya sebagai manusia yang terpilih. Ya, terpilih. Karena tidak semua oranglah yang bisa masuk dalam Pujangga Baru, Lekra, ataupun Salihara. Begitu juga Sajak Liar. Ada momentum dan prestise tersendiri untuk masuk ke dalamnya. Namun, tanpa berkecimpung dalam suatu wadah, suatu figur tetap bisa berdiri dengan kakinya sendiri.

Dalam peradaban, manusia dituntut haruslah memiliki harapan dan impiannya masing-masing. Tanpa kedua hal itu, ia hanyalah mesin di tengah alam semesta. Sebagai wadah kreativitas, Sajak Liar juga menjadi harapan bagi pengarang yang baru memulai. Sayangnya, harapan-harapan tersebut kadang tidak diimbangi dengan kesadaran etika, estetika dan empati dalam berkesenian. Kesadaran apresiasi bangsa kita masih sangat minim, bahkan miris. Masih banyak karya-karya yang diplagiat oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Belum lagi rengekan-rengekan dari pengarang baru terhadap karyanya yang belum berkesempatan untuk diposting. Masih banyak karya yang dianggap “tidak liar” dan dianggap tak layak terbit. Kalau saja kesadaran empati tersebut sudah ada, tentulah rengekan-rengekan tersebut tidak akan terjadi. Secara otomatis mereka akan mengerti, bahwa masih ada kekurangan dalam segi administrasi dan redaksi di dalam Sajak Liar.

Sajak Liar dan Addersnya mungkin bisa dikatakan sebagai proses bermain-main, yang diharapkan menjadi bukan main. Hal itu sah-sah saja. Karena kita seharusnya bosan menjadi bangsa yang sekadar menjadi mainan, yang dipermainkan. 

Komentar