Seharusnya Kita Malu, Seharusnya Kita Prihatin

Suatu malam pada sesi tanya-jawab di televisi, Panglima TNI Gatot Nurmantyo berkata, “Pada dasarnya, masyarakat Indonesia itu suka perang”.  Sontak saya termenung. Saya jadi prihatin, karena pernyataan tersebut diucapkan dan disadari oleh pihak yang ditugaskan untuk melindungi rakyatnya dari kondisi darurat perang. Pernyataan tersebut akan terasa lebih tepat jika diucapkan – atau minimal disadari – oleh setiap elemen masyarakat yang telah mengerti hitam-putih kehidupan. Setelah adanya pengakuan dan kesadaran untuk mengakui tingginya nafsu bertempur pada diri masyarakat tersebut, hal yang perlu mereka sadari adalah bahwa perang tersebut sia-sia belaka. Harus ada keberanian pada diri setiap masyarakat untuk mengakui bahwa perjalanan sejarah bangsa kita – telah dilalui dengan berdarah-darah – sehingga setiap anggota masyarakatnya sadar betul akan manfaat perdamaian dan tak jatuh pada lubang yang sama. Karena syarat terwujudnya perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, adalah menciptakan perdamaian itu sendiri. Kedamaian hanya akan menjadi mimpi, jika masyarakatnya ternyata masih suka berperang.

Konfrontasi, atau perlawanan tanpa kompromi, terkadang dibutuhkan untuk menghadapi lawan yang sewenang-wenang. Akan tetapi, perlu ditegaskan perbedaan antara lawan dan musuh. Sewaktu-waktu pihak lawan dapat menjadi kawan, tetapi musuh tidak. Karena kata kerja dari kata “lawan” adalah melawan, sedangkan “musuh” adalah memusuhi. Ini yang seringkali kurang disadari oleh masyarakat kita – sehingga seringkali – kompetisi, persaingan, dan pertentangan berujung pada suatu dendam. 

Suatu kesalahan, ketidakwajaran dan ketidakadilan pada dasarnya perlu untuk digugat. Namun penyampaian gugatan tersebut juga perlu dilakukan secara tepat. Di situasi inilah kecerdasan emosional seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut diperhitungkan, dan hasilnya akan dicatat dalam sejarah; bagi pribadi, kelompok atau bahkan bangsanya sendiri. Ada dua pilihan cara untuk menghadapi persoalan tersebut: berjuang secara moderat seperti Sutan Sjahrir dan Agus Salim, atau berjuang secara revolusioner seperti Sudirman dan Tan Malaka. Tidak ada yang dapat menentukan mana pilihan perjuangan yang lebih berat dan lebih berharga. Kedua jalan tersebut memiliki kelebihan masing-masing, dan andil yang besar bagi perubahan nasib suatu zaman. Kedua hal tersebut semestinya dijadikan acuan dalam bersikap bagi segenap bangsa kita. Tapi sayangnya, sejarah hanya menjadi barang kuno yang pantas masuk laci, dan dimandikan dengan kembang pada tiap seremoni. Bukan untuk dipelajari. Sepantasnya kita malu, sepantasnya kita prihatin. 

Bung Hatta pernah berkata, “Bangsa yang merdeka, cenderung melakukan penjajahan dari dalam dirinya sendiri”. Perkataan tersebut benar-benar terbukti. Setelah perjuangan di jalur meja perundingan dan angkat senjata selama bertahun-tahun telah kita lalui, permasalahan selanjutnya adalah bagaimana sikap dalam menghadapi bangsa sendiri, seperti yang dikatakan Bung Karno. Kekuatan dan kekuasaan tampak saling gulung-menggulung sejak dari awal kemerdekaan hingga hari ini. Dimulai  dengan nyawa Otto Iskandar Dinata dan Amir Hamzah yang menjadi tumbal kemarahan rakyatnya sendiri; nasib Tan Malaka dan Amir Sjarifuddin yang dieksekusi di ujung senapan sebangsanya sendiri; Hatta yang mudur dari Demokrasi Terpimpin dan Sjahrir yang dibuang ke pulau nun jauh di seberang; Bung Karno yang digulung kekuatan Suharto; dan Suharto yang mundur tanpa pertanggungjawaban sama sekali. Tak cukup sampai di situ. Penjajahan dan nafsu untuk menggulung sesama juga merasuki jiwa pemudanya. Hal itu ditunjukkan dengan jatuhnya Alawy Yusianto Putra sebagai korban dari suatu sistem pendidikan dan kebudayaan yang bobrok, yang hanya memedulikan nilai-nilai materil dan kuantitatif belaka. Sejarah bangsa kita berlumuran darah para pahlawan dan korban sebangsanya sendiri. Semestinya kita malu, semestinya kita prihatin. 

Zaman telah berubah, perjuangannya pun telah berbeda. Di era yang memudahkan masyarakat mengakses dunia hanya dengan ujung jarinya saja, mengharuskan pikiran yang terbuka menjadi nafas bagi setiap manusianya. Jika tidak, manusia tersebut akan menjadi manekin-manekin yang digerakkan oleh tangan-tangan setan. Jika “tangan-tangan setan” Nicky Astria adalah tangan-tangan setan yang mencorat-coret wajah Ibukota, tangan-tangan setan yang satu ini justru akan mencorat-coreti wajah segenap bangsanya yang lugu. Coretan pada dinding, dalam situasi tertentu dapat memberikan makna estetika dan pesan kejujurannya tersendiri. Namun coretan pada wajah tersebut, bukanlah tata rias yang memberi kesan keindahan, melainkan wajah garang dengan pemikiran tertutup, provokatif, dan gila perang. 

"Karena keselamatan berada di tengah antara dua hal yang saling berlawanan. Jadi keselamatan adalah jalan tengah, atau kewajaran atau keberimbangan. Yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah kehidupan yang serba tidak wajar, melampaui batas. Dan kehidupan takkan kembali berimbang sebelum dia mengalami akibat ketidakwajaran itu.” 
Begitulah ucapan Sakum yang dituangkan oleh Ahmad Tohari dalam sepenggal kisah ‘Ronggeng Dukuh Paruk’. Suatu pendapat yang menawarkan jalan tengah sebagai jalan terbaik. Suatu paradigma yang juga diamini oleh Pramoedya dalam ‘jejak Langkah’ (Hlm. 574-575). Tetapi sepertinya, jalan tengah merupakan jalan yang dianggap “banci” bagi mereka yang gemar menyulutkan perang pada api amarah. 

Seharusnya kita malu, seharusnya kita prihatin, jika bernasib menjadi bangsa pemarah dan gila perang. 

Komentar