Agama Kita Agama Damai

Ilustrasi oleh Anti-Tank
Judul tulisan ini diambil dari salah satu pesan dalam karya Anti-Tank, sebuah projek seni jalanan dari seorang seniman Jogja, yang membuat saya jatuh cinta kepadanya sejak dari pandangan pertama. Ini serius. Tapi daya tarik Anti-Tank berbeda jauh dengan pesona dari seseorang yang kita kagumi. Jika seseorang yang kita kagumi dapat dinilai pesonanya hanya dari senyuman atau gaya bicaranya, pesona Anti-Tank justru terpancar dari keironisan sebuah bangsa, bernama Indonesia. Estetika Anti-Tank terletak pada kepeduliannya di tengah keegoisan dan keindividualisan yang berjejal di antara keramaian hiruk-pikuk kota. Senyum Anti-Tank adalah kesahajaan di tengah wajah-wajah yang berpaling dan tak acuh. Suara Anti-Tank adalah gugatan di tengah-tengah kondisi diam yang takut, atau bahkan tak peduli sama sekali. Meskipun diam itu sendiri tak seutuhnya ada. Karena yang terjadi bukanlah kondisi diam, tetapi keheningan yang di baliknya terdapat keresahan-keresahan yang tak terdengar.

Pesan yang disampaikan Anti-Tank tersebut, semakin terasa relevan untuk disebarluaskan, atau paling tidak, diingat di dalam hati kecil kita akhir-akhir ini. Sejak dari Pemilu pertama di tahun 1955, isu Agama memang menjadi senjata paling mutakhir untuk menggerakkan massa. Dan sejak dari Pemilu pertama itu pula, telah banyak kode-kode etik yang dilanggar. Mulai dari kelompok Partai Masjumi yang membawa anak-anak kecil ikut kampanye, sampai Parta Komunis yang membawa keliling seekor anjing dengan kalung berlambang bulan-bintang di lehernya. Kita tak perlu heran jika setiap menjelang Pemilu, selalu ada keresahan-keresahan yang ditimbulkan dari salah satu kelompok masyarakat. Karena memang sejarah, bagi sebagian bangsa kita hanya menjadi pelajaran tentang tahun dan nama. Bukan peristiwa dan hikmah. Jika sejarah sudah dipelajari sebagai peristiwa dan hikmah, maka teriakan-teriakan “Boikot” dan “Ganyang” tak akan dan tak perlu kita dengar lagi.

Akhir tahun menjelang Pemilu ini juga harus kita lalui dengan bersabar menghadapi polemik pengucapan selamat hari raya dari sebagian golongan. Jika saja saya Socrates, mungkin saya telah berkeliling kompleks menyambangi kawan-kawan yang tidak seagama dengan saya, dan saya akan meminta maaf serta mengungkapkan rasa malu saya akan polemik tahunan ini. Saya siap diadili, saya siap diboikot dan didemo jutaan warga pembela tetek-bengek golongan mereka. Sementara di pagi hari saat hari raya natal, Ibu saya asyik menelepon adiknya di Jogja, yang bersuami seorang Nasrani, untuk mengucapkan selamat. Dan sebagian lagi saudara-saudara kita di luar sana, sibuk mencatut Buya Hamka yang mundur karena prinsip keberagamaannya, tetapi kebesaran hati beliau memaafkan Bung Karno tak pernah sekalipun tercermin dan kita rasakan. Sebagian dari kita bagaikan politikus-politikus bermulut besar, tanpa tindakan yang berarti.

Saya mafhum, bahwa prinsip memang harus dijalani sepenuh hati. Bahwa apa yang kita anggap salah, harus kita benahi. Karena mendiamkan kesalahan adalah sebuah kejahatan, seperti kata Soe Hok Gie. Tetapi cara untuk menegakkan kebenaran tersebut haruslah dengan cara yang tepat pula. Berdamai bukan berarti mendiamkan. Cara yang dipilih Anti-Tank melalui poster dan stensil yang disebarkan di atas dinding-dinding jalanan, jauh lebih berarti dan menarik, dibanding jika ia turun menyambangi tiap warga dan berteriak “Agama Kita Agama Damai.” dan mungkin akan mendapat jawab masyarakat, “Anak TK juga tahu!” Bahasa visual jauh lebih diterima oleh otak jenuh pengguna jalan, yang sesak dengan suara bising knalpot dan dihantui suara boss di kantor.


Bahasa dan Tindakan

Agama yang diturunkan di suatu daerah adalah agama yang diharapkan mampu mendorong peradaban manusia yang lebih baik. Dalam proses peradaban tersebut, bahasa dan tindakan adalah dua hal yang menjadi dasar pengaruhnya. Dengan bahasa, tujuan yang dimaksud akan mudah tercapai. Dengan proses berbahasa yang gagal pula konflik bisa terjadi.

Pada usia 21 tahun, KH. Wahid Hasjim, ayah kandung dari Gus Dur, membuat gebrakan baru dengan memodernisasikan pengajaran di pondok pesantren. Ia memadukan pola pengajaran pesantren yang menitikberatkan pada ajaran agama dengan pelajaran ilmu umum. Beliau juga menyadari betapa pentingnya bahasa, sehingga pelajaran Bahasa Inggris dan Belanda pun diterapkan pula di pondok pesantren. Dan beliau jugalah yang berusaha meredam polemik perumusan Piagam Jakarta, yang mirisnya akhir-akhir ini tak jarang diperdebatkan kembali.

Jika KH. Wahid Hasjim menyadari urgensi bahasa, KH. Ahmad Dahlan pun berbahasa dengan keindahan tindakannya. Tak hanya tegas menolak hal-hal klenik di kampung kelahirannya, beliau juga memiliki kedinamisan sikap yang elok. Ia tidak marah, apalagi menghukum muridnya, saat seorang murid priyai yang ia ajar tiba-tiba buang angin, dan seisi kelas tertawa meledek. Beliau justru menjelaskan betapa berharganya isi perut yang diciptakan Tuhan, dan membuat seluruh muridnya tersebut membayangkan jika perut manusia bagaikan plastik, yang makin diisi banyak angin akan meledak seketika. Seluruh muridnya takjub, dan sadar akan penjelasannya yang logis tersebut. Seketika mereka hormat kepada beliau, padahal sebelumnya, mereka selalu meremehkan pelajaran agama dan gurunya tersebut.

Tindakan yang besar dan berarti tak hanya mampu mendapatkan rasa hormat, tetapi juga mampu menyelamatkan kita dari suatu malapetaka. Hal tersebut terbukti dari tindakan besar Albertus Soegijapranata, seorang Vikaris Apostolik Semarang, yang menyelamtakan rakyat Semarang dari pembantaian Tentara Jepang yang kalah terhadap sekutu. Dengan taktik diplomasinya, ia membela sekaligus menyelamatkan. Ia melawan tanpa perlu memusuhi.

Banyak sekali figur besar yang dapat kita catut untuk menguatkan argumen, atau pembenaran-pembenaran prinsip kita dengan tujuan apa pun itu. Tetapi jarang dari kita yang menyadari, bahwa bukan figur besarlah yang kita butuhkan, melainkan tindakan-tindakan besar dan berarti yang menuntun kita menuju peradaban yang lebih baik. Begitu juga dalam keagamaan. 

Kita butuh orang-orang beragama dengan tindakan besar dan berarti. Bukan orang beragama yang pandai berdebat, dan bertindak tanpa arti. 

Komentar