Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri

Sesampainya di D’Gallerie, pintu  ruang pameran masih tertutup. Mungkin acara sudah dimulai, pikir saya. Namun ternyata, pembukaan pameran diundur. Beberapa orang masih menunggu di luar, sementara saya nekat masuk ke dalam. Setelah mencoret-coret buku tamu, saya tak mendapat katalog. Suatu hal yang patut disayangkan untuk event pameran sebesar ini, pikir saya. Beberapa karya telah bertengger di dinding, memanggil-manggil. Saya, beberapa rekan media dan tim dokumentasi acara adalah penjamah pertama mereka, sebelum akhirnya para pengunjung berbaris masuk ke ruang pameran.



Seorang pengunjung terlihat khusyuk mengamati salah satu lukisan karya Herzven. 

Street Dealin adalah perhelatan musiman yang biasa diadakan di akhir tahun, ataupun Lebaran. Event yang diselenggarakan oleh Gardu House, wadah sekaligus – skena terbesar bagi komunitas graffiti & street art – ini, memasuki musimnya yang ke-11. Event tutup tahun kali ini diadakan dari tanggal 12-17 Desember 2017. Yang berbeda dari Street Dealin sebelumnya, event tersebut kali ini tak hanya menyuguhkan bazaar dan live performance. Tapi juga screening film, diskusi, dan pameran yang akan diadakan di tiga tempat berbeda.  D’Gallerie adalah lokasi pameran pembuka di hari pertama. Pameran ini menghadirkan 17 peserta dengan karya berbeda, di setiap tempat. Seperti perhelatan sebelumnya, Garduhouse tahun ini juga mengundang seniman mancanegara untuk ikut serta. Pameran kali ini bertajuk ‘Party Collective Exhibition’.

Budi dari Gardu House, membuka acara pameran. 

Acara yang mestinya dibuka pukul tujuh malam itu, baru resmi dibuka satu jam setelahnya. Uwew, seorang pemuda yang juga anggota Garduhouse ditunjuk (lagi) sebagai MC. Setelah berbasa-basi, sang MC andalan itu mempersilakan ketua pelaksana dari pihak Garduhouse bernama Budi, untuk memberi sambutan. “Pameran kali ini bertujuan untuk mengajak teman-teman pelaku graffiti dan street art, untuk berkarya di media selain dinding,” ujar Mas Budi, menjelaskan. Dari jalanan ke galeri, batin saya.
Setelah sambutan oleh pihak penyelenggara dan galeri selesai, live performance pun menanti. “Dia dulu pernah isi acara di tivi ... ‘Deni Manusia Ikan,” seloroh Uwew. Gerrr pun pecah, mengendurkan urat saraf para hadirin. Deni yang dimaksud sang MC, adalah penampil untuk sesi live painting.
DJ Set memulai tugasnya, menghidupkan suasana. Pria yang disambut MC tadi, bergegas ke taman bermainnya.
***

Deni alias Mbek alias Daskee, beraksi di depan media yang disediakan oleh D'Gallerie.

Deni yang tadi disambut oleh MC itu, adalah seorang arek Suroboyo. Ia mendalami graffiti sejak tahun 2004. Seperti umumnya graffiti writer yang memiliki nama alias, Daskee adalah nama alias yang digunakan oleh Deni dalam berkarya. Seperti yang diceritakannya kepada saya, ini merupakan pengalaman pertamanya beraksi dalam galeri. Pria yang kerap disapa Embek ini, menggarap karyanya dengan asyik nan fokus. Tak ada rasa grogi sedikit pun yang terpancar darinya.
Dengan ber(di)modalkan enam kaleng cat semprot import bermerk Montana, Mas Embek menggarap replika dinding yang disediakan. Cat semprot berukuran masing-masing 400 ml itu beraroma donat, seperti warnanya. Graffiti bertuliskan ‘Street Dealin XI’ yang sedang digarap Daskee itu, berjenis simple piece. Sedikit ruwet, namun masih tetap terbaca. Huruf ‘D’ pada kata ‘Dealin’ yang sedang digambarkannya, merupakan ciri khas pada setiap karya Daskee. Semiotika adalah kekuatan utama dalam kesenian graffiti.
***

Perhatian pengunjung sebagian terpecah, meninggalkan Mas Embek yang masih sibuk main pilox. Sebagian dari mereka menghampiri Oomleo, yang bersiap untuk berkaraoke bersama pengunjung. Oomleo adalah seorang keyboardist dari band electro pop ternama di Jakarta, Goodnight Electric. Oomleo Berkaraoke merupakan proyek solonya beberapa tahun terakhir. 
Sejumlah laptop dan perangkat sound system terlihat memenuhi meja. Terdapat sebuah monitor yang dihadapkan ke arah pengunjung. Nantinya monitor berukuran 21 inch itu, berfungsi sebagai tampilan lirik karaoke. Tak cukup di situ, dinding putih yang luas pun disoroti cahaya proyektor berisikan lirik karaoke. Dengan memunggungi dinding berlirik lagu itu, Oomleo memandu para pengunjung. 

Oomleo menghayati lagu Padi. 
Bukan Oomleo namanya kalau ndak nyeleneh. Graffiti dan street art yang identik dengan kehidupan jalanan yang tak luput dari hal-hal kekerasan (premanisme, misalnya), malah dihanyutkan oleh kesyahduan yang dibuatnya.
Alih-alih musik rap, punk rock, dan heavy metal yang identik dengan kebringasan, kesan ‘mengancam’ dan dekat dengan image jalanan, Oomleo malah mengawali aksinya dengan deretan lagu-lagu pop ter-hits di zamannya. ‘Kasih Tak Sampai’ dari Padi, membuat pengunjung yang tadinya hanya manggut-manggut, perlahan mulai terhanyut. Sing a long pun tak terhindarkan.

Pengunjung mengikuti panduan Oomleo. 

Kesyahduan karaoke bersama Oomleo terus berlanjut. Beberapa lagu dari MGMT, Morrissey, hingga Iwan Fals sempat ‘dibawakan’. Acara berlangsung hingga pukul sebelas malam. Acara pameran berlanjut lusa hari. Third Eye Space milik Anton Ismael, menunggu giliran.
***



Keesokan lusa, di Third Eye Space. Jam di handphone saya menunjukkan pukul setengah empat. Semua peserta telah berkumpul. Wormo alias Aram Kaleva dan Popo alias Riyan Riri Riyadi, telah duduk di depan hadirin. Mantan desainer grafis dan dosen yang sedang cuti itu, siap berbagi pengalamannya sebagai full time artist. Popo, yang sebelumnya mengenal saya di acara Anarkonesia (kolektif anarkisme yang berbasis di Jakarta), melambaikan tangannya ke arah saya, menunjuk ke arah bangku belakang. Saya pun masuk ke ruang diskusi.
Ruang diskusi dilangsungkan di ruang yang sama dengan tempat pameran. Lukisan Che Guevara bergaya semi realis dari Ivory Chiko, dan ilustrasi wajah seorang wanita bergaya abstrak realis dari Hard Thirteen, terus menggoda di sisi kanan dan kiri. Popo dan Wormo memulai pembicaraan seputar alasan mereka keluar dari zona nyaman 
(Ceileh, Fourtwenty kale ...).

Riyan Riyadi alias Popo sedang berbagi pengalamannya. Aram alias Wormo mengenakan kaos putih, ikut menyimak di sebelahnya. 

Topik pun lambat laun terfokus pada kerja sama pihak seniman dengan korporat. Popo mendominasi pembahasan tersebut, sementara Wormo terlihat agak canggung dan jarang bicara. Popo membocorkan triknya menerima tawaran kerja sama dari korporasi besar. Ia mewanti-wanti teman-teman komunitas, agar menghindari rayuan gombal korporasi besar yang pelit. Semacam dimodali cat semprot (baca: peralatan) untuk live perform tanpa dibayar, misalnya. Terkesan heroik dan mendongkrak eksistensi komunitas, memang. Namun cukup memalukan bagi suatu korporasi besar; semacam rokok, misalnya.
Diskusi ditutup dengan sesi tanya jawab, yang tak ketinggalan diikuti oleh Anton Ismael a.k.a Pa’e, sang pemilik Third Eye Space. Pa’e bertanya sebagai fotografer, dan (bukan) pelaku graffiti dan street art. Ia menanyakan bagaimana perkembangan dan sejarah graffiti itu sendiri. Popo mencoba menguraikan, bagaimana graffiti itu sendiri sebenarnya pernah digunakan sebagai media propaganda di era revolusi kemerdekaan – jauh sebelum budaya hip-hop di Brooklyn berkembang.
Pertanyaan peserta mulai surut, suasana hening. Sesi diskusi pun ditutup dengan pesan-pesan pembicara pada pengunjung, sebagai pelaku graffiti. Diskusi berlangsung hingga pukul setengah lima (macam lagu Sore Ze Band ... ).
Setelah pengunjung dan pengisi acara menyantap makanan ringan yang disediakan, ruangan diskusi pun disterilkan untuk opening pameran. Pintu ruangan itu dibuka lagi nanti ba’da Isya, saat opening berlangsung.
Pintu pameran telah dibuka, opening telah dimulai. Pengunjung dipersilakan melihat-lihat pameran. Pelataran Third Eye Space pun disulap menjadi lantai dansa a la dnb dan reggae dub oleh kawan-kawan Gardu House. Tangga menuju restaurant yang terletak di lantai atas, dijadikan lahan menggambar bagi Rubs Eight, graffiti writer asal Yogyakarta, yang juga kerabat Garduhouse. Suasana malam itu pecah.
Acara akan berlanjut esok dan lusa, dengan tempat yang berbeda. Dua hari terakhir nanti, Gudang Sarinah Ekosistem akan (kembali) menjadi lokasi penutup acara. Acara akan berlanjut dengan diskusi bersama graffiti writer asal Jerman, Hombre; serta pameran di ruru gallery. Tak ketinggalan juga bazaar bersama brand-brand lokal, seperti street dealin sebelumnya. Dinding-dinding di sekitar lokasi Gudang Sarinah pun di-refresh lagi dengan piece-piece baru, dari artist berbeda-beda.
Bagi kalian yang tak sempat mampir ke Street Dealin musim ini, Street Dealin XII siap menanti di musim berikutnya. Jangan khawatir, Street Dealin sejauh ini, terus menunjukkan perkembangannya. Dan mereka akan terus membutuhkan dukungan kita. 


Artikel ini pernah dimuat di www.minumkopi.com, 23 Desember 2017. 

Komentar