Fiersa Besari dan Ingkar Janji yang Menyenangkan

Hujan deras membasahi sekujur jaket hujan saya. Parkiran basement Rossi Musik Fatmawati memanggil-manggil. Sesuai dugaan, parkiran di basement akan lebih sepi dibandingkan parkiran depan. Hal itu dikarenakan malam ini, Rossi Musik diisi oleh hal yang berbeda. Sekumpulan remaja pecinta budaya pop, berkumpul di lokasi bersejarah bagi scene musik underground. Sudah jelas betul mereka tak sepenuhnya mengenali lokasi tersebut. 

Konser bertajuk Ingkar Janji ini adalah konser yang diadakan swadaya oleh Fiersa Besari dan kelompok musiknya, Kerabat Kerja. Setelah sebelumnya mengumumkan kabar untuk meninggalkan dunia panggung dan kembali berpetualang, Fiersa Besari pun mengingkarinya. Rossi Musik menjadi tempat kedua, setelah sebelumnya konser tersebut diadakan di Institut Francais Indonesia, Bandung. Konser ini didukung sepenuhnya oleh Eiger, brand yang selama ini mendukung kegiatan berpetualang pria yang kerap disapa Bung itu.

Lantai atas gedung Rossi Musik dipilih menjadi venue. Biasanya, untuk perhelatan musik bawah tanah selalu menggunakan lantai dasar. Beberapa tahun hal itu dilakukan untuk menghindari robohnya gedung tua tersebut. Gaduhnya moshpit dan pogo di arena dansa bawah tanah, dianggap membahayakan keselamatan gedung. Hal itu bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan perhatian khusus. Saking khususnya, pihak pengurus gedung mengizinkan sepanjang dinding lorong dan studio lantai dasar dijadikan medium corat-coret. Tidak berlebihan jika tempat tumbuh-kembangnya scene underground ini, dijuluki sebagai CBGB-nya Jakarta.

Ditemani seorang crew yang berjaga di loket, saya dan seorang teman naik ke lantai atas. Menuju ruangan khusus tamu, yang dipenuhi crew dan rekan-rekan pengisi acara. Lokasi VIP itu berada satu lantai di atas, tepat di belakang tribun. Di seberang sana, Fiersa Besari dan Kerabat Kerja telah memulai tugasnya. Pengunjung yang didominasi perempuan remaja itu pun menyambut histeris. Kerudung berwarna-warni itu mengubah citra Rossi Musik yang identik dengan rambut cepak a la punker. Beberapa lagu pilihan followers instagram Fiersa Besari dibawakan. Sayangnya lagu berjudul Anak Semua Bangsa, luput. Lagu yang menemani perjalanan saya menerpa hujan ke konser ini. Lagu yang menunjukkan sisi lain Fiersa Besari. 

Konser berdurasi dua jam itu pun berjalan lancar. Pengunjung bubar dengan tertib. Saya menunggu Si Bung keluar, di depan pintu. Tak tercium aroma alkohol dari para pengunjung. Kalaupun iya, hanyalah alkohol parfum. Saya pun tersenyum senang dengan kawan saya. Suatu hal yang berbeda, batin saya. Fiersa Bersari dan Kerabat Kerja terlihat keluar mendekati pintu. Drummer Budi dikejar-kejar fans-nya. “Sssst ... Mang ...,” panggil saya, berbisik di telinga Bung. Dia pun menengok. Mengamati kaos kuning The Popo1 yang saya kenakan, identitas yang telah saya berikan dari jauh waktu. Kami pun bergegas ke ruang office pengisi acara. 


Sisi Lain Fiersa Besari 

Walaupun menempuh jalur indie, Fiersa Besari memiliki popularitas layaknya seorang selebriti. Ia memiliki fanbase berjuluk “Kawan Mengagumkan”. Posting-an di media sosialnya selalu ramai. Tiket konser seharga 130.000 rupiah itu pun ludes dalam hitungan dua menit, via online. Harga tiket yang cukup tinggi, jika dibandingkan konser musik underground. Untuk scene underground, diberi harga tiga puluh ribu pun, masih banyak yang jebolan. 

Hampir setahun saya menunggu waktu untuk bertemu dengannya. Saya lebih dulu mengenal karya tulis Si Bung, dibanding musiknya. Hal itu berawal dari bergabungnya saya ke Komunitas Pecandu Buku, komunitas yang didirikan Si Bung bersama teman-teman. Melalui resensi sebuah buku tentang Tragedi Tanjung Priok ’84 yang diterbitkan Kontras, saya bisa bergabung di komunitas tersebut. Belakangan saya mengetahui bahwa Si Bung juga peduli tentang isu populis. Wawasan masa kini dan masa lalunya cukup bagus. Hal berbeda dari penulis “bestseller” terkini kebanyakan, di mata saya. 

Di dalam ruang office itu saya diperkenalkan oeh Bung seorang editornya, Mbak Lia. Belum lama bertatap muka, Si Bung dan saya nyerocos masalah sejarah. Mbak Lia pun hanya menimpali dengan jawaban dan tawa. Teman saya terpaku, menyimak. Mulai dari isu nasional, populer, hingga Gogon (baca: gossip underground) – istilah yang diucapkan Bung. Agak kaget juga istilah itu terucap dari mulutnya. Apalagi setelah Si Bung membeberkan bekas hadiah tawuran di kepalanya. Dia menunjukkan luka itu di sela-sela rambut botaknya, sambil cengengesan. Dia bilang sempat sekolah di Jakarta, hingga SMA. Ibu Kota menyeretnya masuk ke dunia kenakalan remaja. Kenang-Kenangan Orang Bandel2, batin saya. Teman saya dan Mbak Lia pun geleng-geleng, heran. 

Setelah pegal ngobrol sambil berdiri, kami pun duduk di sofa yang melingkar. Sambil menyulut rokok, saya beberkan bahawa dulu pernah berhenti tiga tahun. Si Bung mengaku takut jika ada yang bilang begitu, karena hingga saat ini ia pun juga baru berhenti tiga tahun. 

Ada sepeda motor CB yang terparkir di sudut ruangan. Seorang crew Kerabat Kerja menungganginya sambil berlagak macam Dilan. Tokoh fiksi yang satu itu memang sedang hangat diperbincangkan. Sayangnya hanya berujung pada bahan olok-olokan. Hal yang cukup memprihatinkan dari dunia fiksi populer masa kini; jika dibandingkan dengan Ali Topan, Si Boy, Lupus, Rangga, hingga Juang – tokoh yang diciptakan Si Bung. Beberapa nama yang saya sebut merupakan suara zamannya yang aktual, tidak mundur ke belakang. Kalaupun iya, tidak terjebak dalam romantisme sejarah – apalagi romantisme gombal. Seperti tokoh Rangga, yang diakui ole Riri Riza sebagai bentuk adaptasi Soe Hok Gie yang keliru: Gie di dunia nyata jauh berbeda dari sosok Rangga yang misterius. 

Selain karya fiksi populer yang menjadi baham olokan, banyak juga penulis populer – sebagai individu – cukup memprihatinkan sikapnya. Banyak dari mereka yang mudah besar kepala dan anti kritik. Pertemanan saya dengan Bung justru berawal dari kritik. Dia mudah menerima pendapat orang, dan mampu berargumen dengan logis. Bahkan dia mengaku tidak begitu membanggakan popularitas yang kini menghampirinya. Kebanggaan terbesar hanyalah membahagiakan Ibunya. Bukan dengan materi, tetapi nama baik. Hal itu tersirat dari sikapnya selama ini. 

Setelah sibuk menyambut Kawan yang Mengagumkan-nya untuk berfoto dan menandatangani beberapa bukunya, Si Bung pun kembali dengan kami. Mbak Lia balik duluan. Rian, salah satu crew Kerabat Kerja dan salah satu pendiri Komunitas Pecandu Buku menghampiri. Si Bung memperkenalkannya sebagai salah satu penyebar virus membaca. Kami berempat melingkar membicarakan banyak hal. Si Bung ndakik-ndakik ke permasalahan ideologi, saya menanggapi dengan tenang. Rian menimpali dengan antusias. Teman saya lagi-lagi terpaku, menyimak. 

Hari makin larut. Tak terasa, tengah malam telah menyambut. Kami dan segenap crew bersiap-siap cabut. Saya dan teman saya pun pamit. Tak lupa Si Bung menandatangani buku Konspirasi Alam Semesta, milik teman saya.  

Rossi Musik malam itu diisi konser berdurasi dua jam, dengan aksi dan management panggung penuh totalitas. Kawan yang Mengagumkan pun bukan hanya embel-embel semata, terbukti dari sikap tertib mereka. 

Pertemuan yang cukup berkesan, di tengah Ingkar Janji yang menyenangkan.

1Seniman mural asal Jakarta
2Judul buku otobiografi Misbach Yusa Biran 





Komentar