Kokohnya Keluarga Cemara Milenial


Jika sebuah fiksi yang baik adalah fiksi yang terasa bagaikan non-fiksi, atau pun begitu juga sebaliknya. Maka, Film Keluarga Cemara yang baru dirilis 3 Januari 2019 ini, selain menawarkan “fiksi yang baik”, juga menawarkan “klise” yang menyenangkan. Setidaknya, itu yang saya dan penonton lainnya, mungkin rasakan. Sepanjang film diputar, kita dibuat betul-betul benar menebak jalan cerita, namun dengan sensasi melegakan.

Hal yang menimbulkan kesan saya di awal adalah kuatnya realisme cerita yang ditawarkan: sesuai kontekstual zaman, terasa begitu romantik walau agak berlebihan di beberapa sisi.

Peran antagonis di sini pun dibuat betul-betul manusiawi. Tidak hitam-puitih, dan adil sejak dari dalam cerita. Debt collector yang menyita rumah mewah Abah di dalam film ini pun sampai sudi berkata “bukan saya yang jahat” dan mau “bernegosiasi” dengan pemilik rumah, hingga jelas siapa yang sebenarnya bersalah. Atau, lebih berkesannya lagi, kedewasaan remaja labil macam Euis yang keluar dari group dance-nya dengan cukup getir, namun tanpa adanya caci maki di antara mereka. 


Orangtua dan Kepemimpinan 

Anggota yang baik berpangkal dari pemimpin yang baik. Sistem yang sehat pun mustahil tanpa disertai kepemimpinan yang bijaksana. Orang tua dalam Keluarga Cemara ini ditampilkan penuh wibawa dan tanggung jawab, walau agak terasa memaksakan pada diri Abah.

Meskipun, narasi yang ditawarkan agak (jika sungkan menyebutnya masih) terasa “ke-bapak-isme”-an, justru di situlah  pesan nilai kepemimpinan terasa begitu tersampaikan – mengingat di tengah derasnya arus tekanan tahun politik; tahun di mana orang tak lagi ingat nilai-nilai kepemimpinan, yang mereka tahu hanya kami, kalian dan mereka. Ya, kepemimpinan dalam Keluarga Cemara ini digambarkan lebih condong pada figur lelaki. Tidak hanya peran Abah yang terlalu memaksakan kehendak hingga tergelincir saat jadi kuli, tapi juga Pak Guru Gading yang amat ramah dan pengertian pada Euis dan kawan-kawan. Peran wanita terasa seperti penjaga rumah, saat Emak dan Ceu Salma terlibat proses negosiasi pembatalan penjualan rumah warisan pada Tante Pressier yang dingin. Di satu sisi, ini bisa menjadi disfungsi, di mana peran kepemimpinan lelaki dan perempuan yang tertukar. 

Ada satu scene yang cukup wagu: saat Abah dan Emak berpelukan di saat hujan. Scene itu mengingatkan saya dengan Surat dari Praha, film yang juga diproduksi Visinema. Terasa wagu, karena di saat kondisi setertekan itu kok sempat-sempatnya beromantis ria? Ternyata itulah mungkin penyebab Emak hamil lagi. Sungguh “kecelakaan” yang mengganjal. Seperti mengulang kewaguan dalam Surat dari Praha, saat Jaya sebagai ayah memeluk Larasati sebagai anak yang lama tak berjumpa. Orangtua dalam kedua film tersebut digambarkan sebagai pemimpin dengan keromantisan yang akut dan sembrono. 


Menyingkirkan Stigma Milenial

Yang membedakan Keluarga Cemara dulu dan sekarang, tentu adalah zaman. Tiap zaman selalu melahirkan pola pikir, trend, dan segudang produk kebudayaan. Anak-anak dalam Keluarga Cemara milenial ini dicitrakan dengan karakter yang jauh dari stigma “generasi micin” – yang seringkali dianggap sebagai sekumpulan anak-anak tak bernalar, gila trend, dan mengutuk budaya masa lalu. Di satu sisi, ini merupakan harapan atau sebuah inspirasi yang menarik. Namun, bisa juga dilihat sebagai utopi atau eskapisme belaka. 

Hal yang cukup mengganjal di benak saya, adalah ketika anak-anak itu berkumpul dan menyanyikan sebuah lagu nostalgia era 80’an. Pasalnya, tak ada alasan mengapa mereka bisa memiliki pengetahuan musik sejauh itu di usia mereka. Mungkin, hal itu bisa terbantah dengan argumen bahwa fiksi dan fakta mestilah berjarak. Namun, bermain-main dengan tempelan seperti ini justru membuatnya terasa berlebihan dan sangat disayangkan. 

Stigma yang berkembang di masayarakat semestinya perlu ditampilkan juga. Film sebagai potret sosial perlu menampilkan daya tawar dan pertimbangan nilai-nilai kebenaran. Jika suatu film menawarkan daya tanding tanpa menghadirkan realitas sosial di zamannya, tentu terkesan sebagai romantisme dan heroisme belaka. 


Kesederhanaan yang Membuatnya Kuat 

Salah satu hal yang membuat film ini terlihat canggih dan tidak sederhana, adalah sinematografinya. Pengambilan gambar terasa begitu pas ditambah dengan sentuhan warna yang menghangatkan. Salah satu scene dengan tone warna paling menyentuh, adalah saat Abah berdiri di sebelah kereta yang sedang melintas. Pesan visual tekanan sosial itu begitu terasa: kereta yang mengangkut para pencari nafkah, sementara di luar sana ada orang-orang yang termangu macam Abah. Klise? Mungkin. Tapi cukup puitis, dan tepat guna. 

Sebagai debut, Yandy Laurens betul-betul beruntung mendapatkan pemain dengan kualitas mumpuni macam Ringgo dan Nirina. Juga karakter pemain yang begitu pas, seperti Widuri Sasono dan Adhisty Zahra. Tolok ukur kualitas Yandy baru betul-betul bisa diperhitungkan hingga dua film ke depan, layaknya standardisasi tiga album pertama sebuah band. Paling tidak, dari Keluarga Cemara ini kita tahu bahwa Yandy begitu memikat dengan strategi “panas-dingin”-nya: menampilkan cerita yang hangat dan visual yang sejuk. Secara skenario, campur tangan Gina S Noer tentu tak dapat diragukan lagi. 

Sederhana tidaklah mudah, apalagi dalam berkarya. Ada saja godaan untuk berpretensi demi sensasi dan ratting. Kesederhanaan itulah yang membuat Keluarga Cemara terasa sayang untuk ditinggalkan. 

Keluarga Cemara milenial yang kokoh, namun terasa rapuh di sebagain tangkainya. 




Dimuat di Buletin Lintang edisi 3 - Januari 2019 

Komentar