Ruang Tamu


Riyadijoko Prastiyo adalah “nama pena” dari Riyadi Joko Prastiyo, yang akrab dengan sapaan Mas Jok. Penulis kelahiran Jakarta, 20 Februari 1996, ini memilih penulisan nama tersebut setelah beberapa kali mengalami perubahan. Mulai dari Joko Prastiyo, Riyadi J. Prastiyo hingga Erje Prastiyo pernah dipilihnya sebagai nama pena. Penulisan nama terbaru tersebut di atas merupakan pilihan yang diadaptasikannya dari nama pengarang Arswendo Atmowiloto, salah satu pengarang bergenre cerita remaja dan anak-anak yang cukup berpengaruh bagi dirinya.

Kegiatan menulis baru ditekuninya sejak 2015. Sebelumnya ia lebih memilih dunia seni rupa, khususnya street art, sebagai jalan pencarian jati dirinya. Sejak kecil suka sekali menggambar potret tokoh nasional. Kegemaran itu merupakan pengaruh dari lingkungan orangtuanya. Ia memiliki ayah yang begitu mencintai sejarah, berlatar belakang sebagai anak penandu Jenderal Soedirman, dan sangat mengagumi sosok Soeharto. Ditambah lagi, seorang tetangga di sebelah rumahnya adalah veteran dari divisi AURI, yang sangat Sukarnois – dan seringkali menjadi narasumber Tujuh Belasan. Cerita dan foto-foto koleksi kedua orangtua tersebut begitu berkesan bagi masa kecilnya.

Dunia street art yang telah ia “tinggalkan” adalah dunia yang ia dalami sejak 2006. Bermula dari seorang teman sekompleknya yang mencorat-coret halaman belakang bukunya di kelas, karena pengaruh kakak laki-lakinya yang lebih dulu mendalami graffiti. Nekad bergaul dengan “abang-abangan komplek”, membuatnya benar-benar terjun ke jalanan setelah masuk bangku SMP. Pada medio 2009, ia bergabung dengan crew graffiti bernama Font Jakarta Culture (FJC) dan Junior Art Squad (JAS). FJC telah bubar, tetapi JAS masih aktif hingga biografi ini ditulis.

Dunia graffiti yang telah dikesampingkannya kini semakin diterima oleh masyarakat, dan menunjukkan kemajuan pesat. Terbukti dari banyaknya produk komersial hingga pemerintahan, yang menggunakan jasa dan karya mereka. Beberapa tahun terakhir sering diadakan perhelatan street art dan graffiti yang mendatangkan seniman dari berbagai penjuru negeri.

Dunia literasi yang telah dipilihnya kini semakin menghadapi tantangannya – menerjang ombak di tengah lautan informasi bertabur sampah: hoax dan ujaran kebencian. Menulis baginya bukanlah sekadar keberanian, tetapi juga penyerahan diri terhadap waktu; menggumuli realitas, dan menghayati fenomena nasib dan takdir. Setidaknya, itulah pemahaman yang ia dapatkan dari pengalamannya bersama Komunitas Sajak Liar, Komunitas Pecandu Buku dan Komunitas Rusabesi sejak 2016. 

Blog ini merupakan rekam jejak (portofolio) dari penulis.
Inilah blog kumpulan karya tulis saya, seorang “penulis jalanan” yang penuh estetika, menjadi “penulis beneran” yang berusaha lebih esensial.

Selamat menikmati. Subscribe jika berkenan! :) 

Komentar